EARLY FROM EDUCATION AND GROWTH WITH EDUCATION

Jumat, 07 November 2008

Saatnya Menjadi Investor

Menjadi sangat klop bila asing menjual, investor lokal siap membeli.”

Setelah bursa saham dunia berguguran akibat kepanikan hebat sehingga harga saham menjadi murah, kini investor saham dihadapkan pada peluang investasi yang sangat menarik. ”Habis gelap terbitlah terang,” begitu banyak pelaku pasar mengibaratkan kondisi saat ini. Terlebih lagi setelah investor ”disadarkan” dari aksi panic selling yang sangat tidak rasional.<

Investor di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) kini menyadari bahwa kondisi bursa saham menjadi strong buy, bahkan ada yang mengatakan saat ini merupakan it’s time to buy. Kuatnya minat beli itu terlihat pada dua hari pertama perdagangan BEI setelah beberapa hari disuspend, harga saham mulai melompat naik. Pada Senin (13/10) sebesar 0,7% dan 6,4% pada hari berikutnya. Aksi jual investor asing disambut aksi beli oleh investor lokal.

Kalangan analis menilai bahwa investor kini sudah cukup rasional, tak lagi sembarang jual. Bahkan mereka kini memahami adanya potensi keuntungan yang sangat maksimal ditengah tekanan jual pihak asing. Bukankah teori investasi mengajarkan kepada kita beli di saat murah agar bisa menanggung untung ketika harga naik. Kini secara umum investor dihadapkan pada pemilihan saham-saham yang dapat memberikan harapan dan keuntungan pada masa yang akan datang.

Bicara fundamental ekonomi agaknya investor tak perlu ragu lagi, sebab pemerintah melalui Perusahaan Pengelola Asset tidak tanggung-tanggung mengelontorkan dana yang cukup signifikan bagi pembelian saham-saham BUMN. Bahkan Kementrian BUMN memastikan bahwa penghasilan berupa dividen yang akan diperoleh dari pembelian saham-saham BUMN sebagai penambah masukan bagi APBN. Itu harapan dari kalangan pemerintah.

Dari kalangan BUMN sendiri yang kini mengantre untuk melakukan buy back saham, juga serupa. Di samping untuk mempertahankan harga, juga untuk meningkatkan nilai perusahaan di kemudian hari. Bisa dibayangkan saham-saham yang harganya kini sudah terbilang murah itu kembali naik, sehingga pos portofolio investasinya akan jadi bersinar. Jadi tujuannya juga jelas, yakni untuk memberikan nilai tambah bagi perusahaan yang pada gilirannya akan memberikan nilai tambah kepada pemegang saham. Fenomena pemerintah dan BUMN itu melakukan pembelian saham-saham tersebut merupakan indikator bahwa fundamental ekonomi memang cukup kuat.

Sedangkan untuk membuktikan fundamental perusahaan yang sahamnya bisa menjadi sasaran investasi, investor juga tak perlu repot-repot melakukan pemilihan. Karena saham-saham yang banyak mendapat tekanan jual oleh pihak asing adalah saham-saham yang selama ini cukup prospektif dalam memberikan pendapatan, baik pendapatan berupa dividen maupun capital gain.

Sederhananya investor asing melepas saham-saham tersebut tentunya bukan karena saham-saham tidak bagus dan tidak menguntungkan lagi. Tidak percaya? Simak saja komentar banyak analis soal penjualan besar-besaran investor asing itu yang mengatakan bahwa penjualan tersebut lebih karena faktor kebutuhan akan likuiditas di negara asalnya. Jadi bukan karena saham tersebut tidak layak. Karenanya menjadi sangat klop bila asing menjual, investor lokal siap membeli.

Pertanyaannya, kapan itu bisa dilakukan? Jawabnya sudah barang tentu saat ini, saat di mana asing mengguyur pasar karena alasan likuiditas. Saham apa saja yang mesti dibeli? Untuk menjawab saham apa saja yang harus dibeli sudah barang tentu tidak semua saham mesti dikoleksi, apalagi dana yang dimiliki terbatas.

Selective Buying

Dalam investasi yang perlu dipahami adalah diversifikasi portofolio. Memang diversifkasi merupakan satu pedoman dalam investasi yang tujuannya adalah untuk saling mem-back up, ketika satu saham turun maka akan di-back up oleh saham yang lain. Karena itu dalam investasi saham, para penasihat investasi selalu menganjurkan dilakukan secara proporsional. Contoh sederhana diversifikasi investasi saham secara proporsional ini misalnya terkait dengan industri, misalnya sebagian pada saham industri manufaktur, sebagian lagi pada saham-saham pertambangan atau saham sektor konsumsi. Lagi-lagi pemilihan saham secara proporsional ini sangat tergantung pada saham-saham yang paling atraktif, baik dari sisi kinerja pasar dan harga saham itu maupun dari sisi kinerja fundamental perusahaan.

Intinya diversifikasi adalah menyebarkan risiko investasi ke berbagai jenis saham baik secara jangka panjang maupun jangka pendek. Makin kecil risiko secara jangka panjang tentunya hasil investasi akan menghasikan pendapatan yang kian optimal. Kira-kira dalam investasi saham ini investor harus bisa mengkombinasikan risiko yang akan muncul jangka panjang maupun jangka pendek.

Risiko jangka panjang, yang perlu diperhatikan sejauh mana saham yang menjadi pilihan mampu memberikan pendapatan sesuai dengan harapan. Artinya jika pada kurun waktu setahun investasi kita berharap menghasilkan pendapatan 20 persen tentunya harus dipilih saham-saham yang bisa menghasilkan penambahan modal hingga 20 persen itu. Sedangkan apabila sasaran investasi jangka pendek yang perlu diperhatikan sejauh mana saham tersebut bisa bertahan dari fluktuasi pasar. Kalau pasar tengah bearish jangan harap saham-saham yang sektornya bukan public service akan bisa bertahan harganya dari tekanan pasar. Jadi hal-hal seperti itu yang wajib dipahami investor dalam melakukan seleksi pembelian (selective buying) guna mengoptimalkan hasil investasi.

Berikut merupakan beberapa ”tips” yang banyak diberikan oleh para penasihat investasi dalam melakukan selective buying. Pertama seleksi pembelian bisa dilakukan oleh investor dengan memahami terlebih dulu mengenai industri. Misalnya investor yang paham mengenai detail industri komunikasi tentunya bisa menempatkan portofolio sahamnya pada saham sektor telekomukasi ini. Setidaknya pengetahuan tentang sektor telekomunikasi itu bisa memberikan peluang baginya untuk mengetahui kapan membeli saham itu, dan kapan menjual atau menambah saham, sehingga hasilnya investasinya bisa lebih optimal. Kedua adalah dengan berpedoman pada saham-saham yang menjadi market leader pada industrinya.

Di Bursa Efek Indonesia mencari saham-saham yang menjadi market leader dalam industrinya sangatlah mudah, investor bisa berpedoman pada saham-saham unggulan (saham-saham blue chips). Lebih konkret lagi adalah saham-saham yang kapitalisasinya besar (big cap). Di lantai BEI saham ini adalah saham-saham yang tergolong pada saham-saham yang masuk LQ-45. Dari 45 saham itu investor bisa melakukan seleksi lagi misalnya 10 atau lima saham saja. Pemilihan sahamnya bisa dimulai pada urutan kapitalisasi pasarnya atau bisa pula sesuai dengan berpedoman pada jenis industri yang paling dipahami. Sementara soal banyaknya jumlah saham yang menjadi pilihan tentunya sangat tergantung pada kesiapan dana.

Tidak ada komentar: