EARLY FROM EDUCATION AND GROWTH WITH EDUCATION

Kamis, 07 Agustus 2008

Kantin Pluralitas dan Kebebasan Ekspresi

Proses pembelajaran di sekolah tak hanya tertanam saat siswa duduk di antara tembok penyekat ruang kelas. Wujud penanaman nilai-nilai justru tampak nyata saat siswa berkegiatan di luar ruang seperti di kantin sekolah.

Kantin bagi siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Kolese De Britto, Yogyakarta, tidak sekadar berfungsi sebagai tempat makan bersama, tetapi juga mewadahi pluralitas serta kebebasan berekspresi yang menjadi nilai utama, yang dijunjung sejak sekolah berdiri 60 tahun silam.

Tiap siswa terbiasa melepas lelah dan bercanda di kantin tanpa dinding itu. Seperti ruangan yang tak bersekat, mereka pun leluasa berbaur dengan rekan, guru, dan karyawan sekolah.

Sebuah kotak segi empat menggantikan posisi kasir sebagai penarik uang pembayaran. Siswa dilatih untuk jujur saat makan di kantin. Tak jarang, mereka pun saling berbagi segelas es atau sepiring nasi ketika uang kiriman dari orangtua semakin menipis.

Di kantin itu pula, sebanyak 14 grup kesenian dadakan bertanding dalam perlombaan musikalisasi puisi pada Minggu (3/8), sebagai bagian dari rangkaian perayaan hari ulang tahun ke-60 SMA Kolese De Britto. Mereka tak hanya terdiri dari siswa SMA Kolese De Britto, tetapi bercampur dengan siswa sekolah lain di Yogyakarta. Tiap kelompok pun sangat beragam dalam jumlah anggota maupun gaya penampilan di panggung. Grup yang tampil terdiri atas lima orang hingga 62 orang.

Tengoklah penampilan enam siswa yang menamakan dirinya grup ”Five Thousand”. Mereka membacakan puisi wajib karya Subagyo Sastrowardoyo bertajuk ”Dewa Telah Mati” dengan sangat serius. Dua orang di antara mereka berperan sebagai dewa yang telah mati dengan posisi tengkurap di lantai, sedangkan rekan-rekannya membaca puisi sembari bermain gitar. Meski diiringi dawai gitar yang sumbang, mereka terus berteriak dengan lantang.

Menentang arus dan kritis

SMA Kolese De Britto terus mengutamakan pendidikan pluralitas serta kebebasan berekspresi bagi siswa. Rangkaian kegiatan lustrum serta reuni kali ini pun mengambil tema ”Menebar Kebebasan, Menuai Kesadaran Akan Pluralitas dan Kasih”. ”Pluralitas masih menguncup di tempat tertentu saja, belum menyentuh masyarakat secara utuh,” kata Kepala SMA Kolese De Britto Theodorus Sukristiyono.

Kesadaran tentang pentingnya pluralitas di Indonesia semakin merosot. Selanjutnya sekolah harus berperan aktif sebagai mediator pembentukan cara pandang bagi generasi muda.

Penanaman penghormatan terhadap pluralitas menjadi penting agar masyarakat tidak terkotak-kotak karena perbedaan suku, agama, maupun status sosial. Pluralitas akan lebih dipahami jika ditanamkan melalui pendidikan di sekolah.

Pendidikan pluralitas yang diperoleh di sekolah, menurut Ketua Perayaan Hari Jadi SMA Kolese De Britto Supriyatmo, terbukti mampu terus tertanam ketika para siswa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, bahkan setelah memasuki dunia kerja. Lulusan SMA Kolese De Britto cenderung berani menentang arus dan kritis terhadap keadaan sekitar. Dengan semboyan ”Man for and with Others”, tiap siswa juga diajar berempati terhadap kehidupan sesamanya.

Meskipun dikenal sebagai sekolah Katolik, kata Sukristiyono, pelajaran agama justru memfasilitasi adanya kesempatan saling berbagi dalam keberagaman. Nilai religiusitas yang ditanamkan lebih pada bagaimana membangun hubungan antarmanusia. Setiap aktivitas pendidikan di SMA Kolese De Britto juga selalu diakhiri dengan refleksi atau renungan tentang kehidupan.

Sekolah yang berdiri sejak 19 Agustus 1948 ini memiliki jaringan alumni yang cukup kuat. Karena semua muridnya pria, sekolah pun menyelenggarakan temu alumni setiap satu tahun sekali bertajuk ”Manuk Pulang Kandang”.

Tahun ini, komunitas manuk atau burung itu pun punya kesempatan berkumpul sekali lagi dalam acara reuni akbar yang akan digelar bagi seluruh angkatan pada 23 Agustus 2008.
(Mawar Kusuma)

1 komentar:

Handi Kurniadi mengatakan...

wah pak, kalau pakai google adsense, bhasa bloggernya juga harus bahasa indonesia pak.