EARLY FROM EDUCATION AND GROWTH WITH EDUCATION

Kamis, 08 Mei 2008

pokok pemikiran Milton Friedman:

The power of the market

Allocative power: Sistem voluntary excange memungkinkan kerjasama dari jutaan individu dalam produksi barang dan jasa. Friedman menggambarkannya dalam pasar pensil. Tak ada seorang pun yang membayangkan bahwa proses pembuatan pensil membutuhkan kerjasama dalam jumlah besar orang. Pemotong kayu membutuhkan gergaji, truk dan pengungkit untuk merobohkan pohon. Semuanya membutuhkan keterampilan, sementara graphite core-nya harus didatangkan dari tempat lain – mungkin Sri Lanka. Pendeknya sebuah proses yang amat panjang. Kemudian Friedman dengan baik menggambarkan: None of the thousands of person involved in producing pencil performed his task because he wanted a pencil. Some among them never saw a pencil and would not know what it is for. Each saw his work as a way to get the pencil we wanted. Every time we go to the store and buy a pencil, we are exchanging a little bit of our services for the infinitesmall amount of services that each of the thousands contributed toward producing the pencil.

Transmission mechanism:

Yang luar biasa dari contoh pensil di atas adalah bahwa pensil itu dapat diproduksi tanpa butuh sebuah koordinasi negara secara khusus. Tidak dibutuhkan biro-biro pemerintah untuk mempelajari berapa pensil dibutuhkan dan tidak dibutuhkan peraturan berantai untuk menjalankan proses produksi, semua digerakkan dalam ekonomi pasar dengan mekanisme harga. Artinya jika tiap orang mementingkan dirinya sendiri dalam proses produksi dan berusaha menjamin bahwa konsumennya akan puas, maka proses rantai produksi ini akan berjalan.

Removing discrimination

Menarik jika kita kemudian melihat bahwa pasar yang kerap dituduh diskriminatif pun ternyata justru bersikap anti diskriminasi. Friedman menulis dengan baik:

No one buys bread knoms whether the wheat from which it is made grown by a Communist or a Republican, by a constitutionalist or a Facist, or, for that matter by a Negro or a white. This illustrateshow an impersonal market separates economic activities from political views and protects men from being discriminated against in their economic activities for reasons that are irrelevant to their productivity…

Individu yang akan melakukan diskriminasi sebenarnya menghukum dirinya sendiri, karena ia membatasi pilihanyya dalam soal pemasok ataupun konsumennya. Sebagai akibatnya ada disincentive untuk melakukan diskriminasi. Friedman menyebutnya:

A businessman or an entrepreneur who expresses preferences in his business activities that are not related to productive efficiency is at a disadvantage compared to other individuals who do not. Such an individual is in effect imposing higher cost on himself than are other individuals who do not have such preferences. Hence, in a free market they will tend to drive him out

Diversity without disorder

Salah satu keunggulan darim pasar adalah kemampuannya untuk membuat sebuah persetujuan tanpa consensus politik. Padahal dalam political market pilihan-pilihan praktis tidak selalu tersedia. Pemilihan umum tidak dapat dilakukan setiap hari, kita memilih bukan untuk satu kebijakan tertentu tetapi untuk sebuah partai, atau paket program, dan jika satu paket berhasil menarik 15% maka seluruh negara terikat pada itu, bahkan juga untuk mereka yang tidak menyetujuinya.

Friedman menyebutkan: The use of political channels, while inevitable, tends to strain the social cohesion essential for a stable society… Fundamental differences in basic values can seldom if ever be resolved at the ballot box…

Karena itu Friedman menganjurkan: The widespread use of the market reduces the strain on the social fabric by rendering conformity unnecessary with respect to any activities it encompasses. The wider the range of activities covered by the market, the fewer are the issues on which explicitly political decision are required and hence on which is necessary to achieve agreement.

The problem of government power Peran pemerintah yang terbatas menjadi perlu karena system pasar lebih efisien dalam menyediakan barang dan jasa dibandingkan dalam system politik lain. Bagi Friedman kebebasan ekonomi adalah sebuah syarat mutlak untuk kebebasan politik dan pribadi. Ketika pemerintah mengambil alih fungsi aktivitas ekonomi, ada kecenderungan bahwa itu berjalan lebih atas dasar self-interest dari mereka yang menjalankannya ketimbang menfaat bagi mereka yang seharusnya memperoleh manfaat.

Bagi Friedman, kebebasan politik dan ekonomi tidak dapat dipisahkan. Seorang individu yang tidak bisa pergi karena exchange restrictions, orang yang tidak bisa memperoleh pekerjaan karena licensing arrangements, yang tidak dapat mengimport karena adanya quota dan tidak dapat menjual barang pada harga yang ia pilih, jelas tidak dapat dikatakan bebas. Walaupun semua hal itu merupakan ‘ukuran’ ekonomi hal-hal itu hanya bisa diterapkan dengan adanya coercion dan membatasi kebebasan ekonomi.

Selain itu konsentrasi kekuasaan di tangan negara adalah sebuah potensi ancaman untuk kebebasan. Dengan membuat peran negara terbatas maka ekonomi pasar memiliki potensi untuk mengeliminir ancaman itu.

Equality Salah satu kritik yang kerap diajukan kepada kapitalisme adalah soal equality. Pada tuduhan bahwa di dalam ekonomi pasar terdapat inequality yang lebih besar. Friedman memberikan argumen: Benar, bahwa di dalam system pasar, pendapatan amat tersebar tetapi sebagian besar pendapatan dialokasikan untuk jasa manusia ketimbang jasa pemilikan. Selain itu, studi empiris juga membuktikan bahwa perbedaan income di Amerika Serikat ternyata sama buruknya demngan yang terjadi di Rusia, bahkan lebih buruk. Selain itu –alasan klasik–kaum libertarian: yang lebih penting adalah persamaan dalam kesempatan dan bukan kesamaan dalam hasil.

Tinjauan kritis Namun pasar tentu tak sepenuhnya sempurna dan bebas dari cela. Argumen Friedman bahwa pasar tidak diskriminatif sebenarnya memiliki kontradiksi dalam dirinya. Harga, pada dirinya, adalah sesuatu yang diskriminatif. Ia berpihak kepada mereka yang bisa menerima harga itu. Kapitalisme pun seperti terus menerus mensahkan keserakahan.

Kebebasan ini harus dilihat dari dua hal: process dan opportunities. Unfreedom (ketidakbebasan) dapat terjadi karena tidak cukupnya process yang memungkinkan dilakukannya aktifitas untuk memiliki atau memperoleh sesuatu. Contoh yang paling sederhana adalah tidak adanya hak politik masyarakat untuk melakukan fungsinya sebagai individu. Pandangan yang menghubungkan processdengan kebebasan ini tampaknya benyak dipengaruhi oleh pemikiran libertarian, yang memnerikan bobot yang besar sekali pada prosedur yang memungkinkan adanya kebebasan dalam memilih atau melakukan tindakan. Di sisi lain, pembahasan mengenai perluasan set dari kapabilitas tidak akan tercapai. Oleh karena itu pembahasan mengenai perluasan set dari kapabilitas harus memasukkan dua unsur: kebebasan individu dan perbedaan kondisi yang dimiliki oleh tiap individu. Satu kritik Sen bagi pendekatan Libertarian yang banyak dikaitkan dengan pemikiran Robert Nozick adalah bahwa libertarian hanya memfokuskan diri kepada soal equality dalam rights dan mementingkan proses bagaimana sebuah tinadakan atau pilihan dilakukan. Di sini Libertarian telah melupakan soal ‘ketidakberuntungan’ orang akibat kekurangan yang sistematis dari kesempatan yang ada. Sebaliknya kelompok consequentialist lebih memfokuskan diri pada apa akibat dari suatu tindakan, sehingga yang elbih penting adalah opportunities dari sebuah tindakan. Di sini kelompok consequentialist kemudian melupakan bagaimana process yang memungkinkan suatu tindakan dilakukan. Itulah sebabnya pembahasan kebebasan menjadi sangat penting.

Equality Literatur ekonomi mengenai equality berbicara mengenai beberapa kemungkinan equality. Egalitaran bicara mengenai equality dalam kesejahteraan. Tetapi ada persoalan di sini, equality dalam welfare bisa terjadi jika kita bisa membandingkan interpersonal utility antar orang. Dan hal ini nyaris merupakan hal yang mustahil. Selain itu equality dalam welfare juga bisa mengakibatkan rusaknya system insentif. Bagaimana kita dapat menyamakan antara mereka yang bekerja keras dengan yang tidak? Karena itu equality dalam welfare pada akhirnya tidak menghasilkan self respect. Dworkin kemudian muncul dengan ide equality in external resources. Dari sisi ini kesejahteraan orang amat dipengaruhi oleh pilihan pribadi orang dan sumberdaya yang dimilikinya. Satu kritik yang kemudian muncul terhadap konsep ini: equality dalam external resources tidak bicara mengenai equality dalam internal resources seperti bakat, atau cacat yang dimiliki. Dengan begitu Roemer misalnya mengkritik bahwa penerapan ide Dworkin hanya akan membuat mereka yang memiliki handicapped akan menjadi lebih buruk. Pandangan lain mengenai equality juga datang dari Arneson. Arneson menganggap bahwa konsep equality haruslah dilihat dalam konteks equality in opportunity for welfare. Dalam konteks ini, equality harus dilihat dalam konteks karakter individu. Sehingga mereka yang memiliki handicapped misalnya, jelas harus diperlakukan berbeda. Dalam prakteknya, konsep Arneson tidak berbeda dengan ide Dworkin.
Muhammad Chatib Basri

Tidak ada komentar: