EARLY FROM EDUCATION AND GROWTH WITH EDUCATION

Selasa, 13 Mei 2008

Kebijakan Moneter

Kebijakan moneter meliputi langkah-langkah pemerintah yang dilaksanakan oleh bank sentral (di Indonesia Bank Indonesia), untuk mempengaruhi penawaran uang dalam perekonomian atau mengubah suku bunga dengan maksud mempengaruhi pengeluaran agregat.
Komponen penting pengeluaran agregat antara lain penanaman modal yang dilakukan perusahaan. Penanaman modal ini sangat mempengaruhi tingkat suku bunga yang berlaku. Jika suku bunga kredit tinggi, perusahaan tidak melakukan penanaman modal sehingga pemerintah perlu menurunkan suku bunga ini dengan menjalankan kebijakan moneter, yaitu menambah penawaran uang.
Kebijakan moneter dapat dibedakan dalam dua kategori, yaitu kebijakan moneter kuantitatif dan kebijakan moneter kualitaif

1. Kebijakan Moneter Kuantitatif
Kebijakan moneter kuantitatif adalah langkah-langkah yang diambil bank sentral yang bertujuan untuk mempengaruhi jumlah penawaran uang dan tingkat bunga dalam perekonomian. Kebijakan moneter kuantitatif terdiri dari operas! pasar terbuka, perubahan atas suku bunga, dan perubahan cadangan minimum perbankan.

a. Operasi Pasar Terbuka
Bank Indonesia dapat mempengaruhi jumlah penawaran uang dengan melakukan jual-beli surat-surat berharga. Pada saat terjadi resesi, penawaran uang perlu ditambah dengan melakukan pembelian surat-surat berharga oleh Bank Indonesia. Dengan cara ini, penawaran uang di pasar otomatis bertambah karena Bank Indonesia melakukan pembayaran atas surat-surat berharga yang dibelinya, baik dari masyarakat maupun dari lembaga keuangan seperti bank. Bank yang mendapat pembayaran dari Bank Indonesia tentunya memiliki cadangan yang lebih besar sehingga bisa menyalurkannya melalui kredit. Namun di masa terjadinya inflasi, kebijakan Bank Indonesia adalah supaya jumlah penawaran uang di pasar berkurang. Tujuan ini dicapai dengan menjual surat-surat berharga. Dengan penjualan tersebut tabungan masyarakat dan cadangan perbankan akan berkurang. Untuk dapat terlaksana dengan efektif, kebijakan operasi pasar terbuka
harus didukung oleh beberapa keadaan sebagai berikut :.
1) Bank Umum Tidak Memiliki Kelebihan Cadangan
Apabila kelebihan cadangan yang dimiliki oleh bank umum cukup besar, mereka dapat membeli surat-surat berharga yang dijual Bank Indonesia dengan menggunakan kelebihan cadangan tersebut. Hal ini tentu saja tidak berpengaruh banyak bagi pengurangan jumlah uang yang beredar karena bank umum tidak memakai tabungan giral tetapi kelebihan cadangan yang dimilikinya sehingga tingkat inflasi tetap saja tinggi. Dengan demikian dapat disimpulkan operasi pasar terbuka hanya dapat terlaksana dengan efektif jika bank umum tidak memiliki kelebihan cadangan lagi.

2) Tersedia Cukup Banyak Surat Berharga yang Dapat Diperjualbelikan
Operasi pasar terbuka hanya dapat mencapai tujuannya jika terdapat surat-surat berharga yang dapat diperjualbelikan untuk melaksanakan kebijakan tersebut. Artinya, operasi pasar terbuka menuntut kondisi pasar uang dan pasar modal yang telah berkembang dengan baik sehingga jumlah surat-surat barharga yang dapat diperjualbelikan mencukupi.

b. Mengnbah Suku Bunga dan Tingkat Diskonto
Dalam menjalankan tugasnya sebagai pengawas kegiatan bank umum, bank Indonesia harus memastikan kepercayaan masyarakat terhadap system perbankan. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan memastikan agar bank-bank umum bisa membayar semua cek yang dikeluarkan nasabahnya. Agar hal ini terlaksana Bank Indonesia dapat membuat aturan yang jelas mengenai investasi yang dapat atau tidak dapat dilakukan oleh bank-bank umum. Cara lainnya adalah dengan memberikan pinjaman kepada bank-bank umum yang menghadapi masalah dalam cadangannya.
Dalam membanru bank umum yang menghadapi masalah dengan cadangannya. Bank Indonesia dapat melakukan dua hal, yaitu memberikan pinjaman dan membeli surat-surat berharga tertentu yang dimiliki oleh bank umum. Dalam melaksanakan pembelian tersebut Bank Indonesia hanya menerima surat-surat berharga yang mudah cair seperti Sertifikat Bank Indonesia. Apabila bank umum menjual surat-surat berharga itu ke bank Indoesia, langkah ini disebut mendiskontokan surat-surat berharga. Dalam memberikan pinjaman, Bank Indonesia akan menetapkan suku bnga yang harus dibayar oleh bank umum atas pinjaman yang diterimanya. Bank Indonesia juga akan menetapkan suku bunga diskonto dari Sertifikat Bank Indonesia atau surat berharga lainnya. Peranan bank sentral sebagai sumber pinjaman atau tempat untuk mendiskontokan surat-surat berharga tersebut dapat digunakan oleh bank sentral sebagai suatu alat untuk mengendalikan jumlah penawaran uang dan tingkat kegiatan ekonomi. Dalam situasi di mana tidak terjadi full employment atau tingkat penyerapan tenaga kerja yang rendah, bank sentral dapat mempertinggi kegiatan ekonomi sehingga mendorong peningkatan
penyerapan tenaga kerja dengan cara menurunkan tingkat diskonto. Dengan penurunan ini, biaya yang ditanggung bank umum menjadi lebih rendah dan mendorong mereka untuk memberikan pinjaman yang lebih banyak. Namun, apabila yang terjadi sebaliknya, yaitu kegiatan ekonomi mencapai tingkat yang terlalu tinggi, tingkat diskonto perlu dinaikkan untuk mengerem laju kegiatan ekonomi. Peningkatan tingkat diskonto ini akan mendorong bank umum menaikkan suku bunga atas pinjaman yang diberikannya sehingga kuantitas pinjaman yang diberikan menurun karena pengusaha enggan membuat pinjaman baru kerena tingkat bunga yang tinggi dan pada akhirnya kegiatan ekonomi dapat diperlambat.

c. Mengubah Tingkat Cadangan Minimum
Dalam mempengaruhi penawaran uang langkah yang paling efektif adalah dengan mengubah tingkat cadangan minimum yang ada di bank- bank umum. Dengan langkah ini, kelebihan cadangan yang ada di bank umum dapat dihapuskan yaitu dengan cara menaikkan tingkat cadangan minimum. Misalnya, saat ini Bank Indonesia mensyaratkan cadangan minimum sebesar 20%. Akan tetapi, bank-bank umum memiliki cadangan sebanyak 30%. Dalam mempengaruhi penawaran uang, Bank Indonesia harus menaikkan cadangan minimum, misalnya menjadi 30 person. Dengan langkah ini, bank umum tidak lagi memiliki kelebihan cadangan dan tidak bisa meminjamkan uangnya sehingga penawaran uang berkurang.

2.Kebijakan Moneter Kualitatif
Kebijakan moneter kualitatif adalah langkah-langkah bank sentral yang bertujuan mengawasi bentuk-bentuk pinjaman dan investasi yang dilakukan oleh bank-bank umum. Tujuan utama kebijakan ini bukanlah mengawasi perkembangan penawaran uang, tetapi untuk mempengaruhi jenis-jenis pinjaman yang diberikan oleh institusi keuangan. Kebijakan moneter kualitatif terdiri :
a. Pengawasan Pinjaman secara Selektif
Tujuan utama dari pengawasan kredit secara selektif adalah untuk memastikan bahwa bank-bank umum memberikan pinjaman investasi sesuai dengan keinginan pemerintah. Pengawasan ini tidak bertujuan mengendalikan jumlah uang yang dikeluarkan oleh bank umum melalui kegiatan peminjaman dan penginvestasian di pasar uang dan di pasar modal, melamkan mengawasi bentuk peminjaman dan investasi keuangan yang dilakukan oleh bank-bank umum. Beberapa contoh langkah bank sentral dalam mengendalikan pinjaman bank-bank umum adalah sebagai berikut.
1) Mengarahkan supaya bank-bank umum memberikan pinjaman kepada konsumen untuk membeli rumah sedarhana dengan tingkat bunga yang rendah.
2) Menggalakkan pinjaman bagi pedagang kecil.
3) Memberikan syarat yang lebih ringan untuk pinjaman kepada pedagang kecil dan industri rumah tangga.

b. Pembujukan Moral (moral hazard)
Kebijakan ini dijalankan oleh bank sentral dengan mengadakan penemuan langsung dengan bank-bank umum. Dalam pertemuan ini bank sentral menjelaskan langkah-langkah yang sedang dijalankan pemerintah dan bantuan apa saja yang diharapkan pemerintah dari bank umum untuk menyukseskan langkah-langkah tersebut. Dari pertemuan ini, bank umum akan mengetahui langkah-langkah yang harus mereka lakukan dalam menyukseskan langkah-langkah pemerintah.

1 komentar:

Forum Investor mengatakan...

Kebijakan moneter berperan penting dalam perekonomian Indonesia, karena itu perlu gubernur BI yang kompeten.