EARLY FROM EDUCATION AND GROWTH WITH EDUCATION

Rabu, 21 Mei 2008

Iklan wiranto


Sarimi (33) adalah seseorang, dia dan keluarganya hanya bisa makan nasi aking, karena harga beras dirasa terlalu mahal, sedangkan Saroni (35) suaminya tak lagi bekerja. Mereka adalah potret keluarga miskin Indonesia.

Kisah tentang Sarimi dan keluarganya ini ditulis di Kompas pada 9 Februari 2006, saya juga belum membacanya secara langsung, hanya mendapati cuplikannya dari space iklan Kompas (15/11) yang ditempati oleh Wiranto, berbagi ruang dengan surat pembaca. Individu yang bisa memasang iklan di harian nasional sebesar Kompas hingga setengah halaman tentu bukan orang sembarangan, dan hanya orang sekelas Wiranto yang bisa. Kalau iklan itu atas nama korporasi, apalagi perusahaan rokok, kita tak perlu nggumun.

Melalui iklan ini, Wiranto mengajak kita untuk bergabung dalam sebuah gerakan moral dengan nama Bersatu Sejahterakan Rakyat, yang meliputi tiga hal: ciptakan 10 juta lapangan kerja, murahkan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas, tumbuhkan ekonomi melalui pemerintahan yang kuat dan tegas. Sungguh ajakan yang begitu mulia, bukan? Sayangnya, iklan ini tak memberikan cara-cara bagaimana kita mengiyakan ajakan Wiranto tersebut, tak ada formulir yang bisa diisi, nomor telepon, alamat pos surat, email, atau website yang bisa dituju, apalagi hiperlink – teknologi media cetak memang tak sampai kesitu ding. Dalam hal ini, iklan dari Wiranto memang kalah canggih dengan iklannya paranormal sakti.

“Lalu apa maksud Wiranto dengan memasang iklan ini?” Ya, itu tadi mengajak kita semua untuk ikut dalam gerakan mulia. “Kok musti pake foto dirinya segala?” Kan yang pasang iklan dia sendiri, terserah dia dong mau pasang foto dirinya atau foto mbahnya, kalau sampeyan juga mau nampang di setengah halaman Kompas ya tinggal bayar space-nya, asal jangan di bagian obituari.

“Tapi, kok iklannya itu mirip kampanye capres sih?” Huusss, sudah dibilang itu tadi ajakan untuk melakukan sebuah gerakan moral kok, tentu lain dong dengan ajakan yang berbau politik, kalau ajakan politik pasti bunyinya: Ayo, coblos gambar saya! Bla bla bla. Lagi pula saat ini masih terlalu ‘pagi’ untuk ngomongin pemilu, mumpung masih pagi mendingan kita ngopi-ngopi dulu, sembari nonton infotainment yang lebih juicy ketimbang obrolan politik, siapa tahu ada kelanjutan kisah Ahmad Dhani dan Maia.

“Atau mungkin Wiranto pengen menjadi sosok Dewi Kunthi bagi negeri ini, yang muncul untuk mengusir Sang Kala si pembawa bencana? “ Gimana sih, yang namanya Dewi ya jelas perempuan dong, Wiranto kan lelaki sejati, kalau Dewi Kunthi mungkin cocoknya untuk Megawati. “Kalo gitu, mungkin dia pengen jadi Kresna, titisan Betara Wisnu yang punya Kaca Lopian untuk menjawab semua masalah itu ya?” Bah, mana saya tahu, bung! Setahu saya, dia itu Jenderal purnawirawan dan pernah ikut nyalon presiden tapi gagal masuk final, cuman sampai semi-final saja.

“Trus, gimana kira-kira nasib Sarimi dan Saroni sekarang?” Lha mbuh ora weruh. Kita doakan saja semoga Sarimi dan Saroni, serta keluarga miskin lainnya di Indonesia bisa mencukupi kebutuhan hidupnya dengan lebih baik dan bisa makan dengan layak, minimal nasi putih dengan lauk secuil daging. Tapi, kalau sampeyan punya duit lebih, ya jangan cuman nyumbang doa doang, berbagilah sedikit dengan mereka.



Tidak ada komentar: